KOMPETISI

Kompetisi FFD adalah rangkaian festival yang dirancang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik yang dihasilkan oleh para kreator.

Kompetisi film dokumenter telah menjadi barometer dalam produksi film dokumenter di Indonesia dan menjadi ajang uji karya bagi para kreator dengan hadirnya para juri yang berasal dari beragam latar belakang dan keahlian, yang mumpuni dan/atau dapat merepresentasikan latar belakang masing-masing.

Kompetisi ini dibagi dalam tiga kategori, yakni Kategori Film Dokumenter Pendek, Film Dokumenter Panjang dan Kategori Pelajar.

Berikut adalah daftar film lolos seleksi Juri Madya Kompetisi FFD 2010 :

Kategori Pelajar

1. Sop Buntut

Dir : Deden Ramadani / 14’03″ / Kontradiksi Ukuran

Anda tahu UN? Ya, Ujian Nasional, dua kata yang menghantui seluruh anak SMA di Indonesia ini. Sebagian takut tidak lulus, tapi sebagiannya lagi bukannya takut tidak lulus, tapi takut kurangnya bala bantuan. Disini Sop Buntut bukanlah nama makanan, bukan pula sebuah singkatan. Sop Buntut hanya sebuah inisial yang digunakan anak-anak SMA 34 Jakarta untuk ‘bantuan’ dalam mengerjakan soal UN. Lalu bagaimana cara mereka menikmatinya?

You know UN? Ujian Nasional (National Exam) is two words like a ghost for all of Senior High school Student in Indonesia. There a part afraid can’t pass this exam, but there a part afraid less ‘help’ for past this exam. In this film, Sop Buntut isn’t a name of food, not abbreviation. Sop Buntut is an initial student Senior High school 34 used for ‘help’ to past National Exam. And how they enjoy that?

2. Ini Budayaku, Budayamu?

Dir : Irene Sanita Lanny / 10′ / Nila Pangkaja SMAN 1 Yogyakarta (Crew 31)

Film ini menceritakan tentang salah satu dari beribu budaya yang kita punya. Tari Serimpi Sangupati, salah satu ragam tarian klasik dari Kerajaan Kraton Yogyakarta. Dulu tarian ini dibawakan oleh 4 putri kraton. Tapi kini, seiring perubahan zaman, peran ke-4 putri kraton terkadang digantikan oleh 4 warga negara asing atau “bule”. Tentu fenomena ini merupakan sebuah ironi besar bagi bangsa kita sekaligus mencuatkan pertanyaan yang mendasar: ini adalah budayaku, mana budayamu?

This film tells about one variation from thousand cultures that we have. Sangupati Serimpi Dance is one of classic dance from the Kingdom Kraton of Yogyakarta. In the past, this dance performed by 4 daughter of Kraton. Now this dance performed by foreign girl. This a big irony for our nation and make a question: it’s my culture, where your culture?

3. Aku Harus Sekolah

Dir : Reza Pranata / 29’49″ / In Frame CorJesu Cinema Community

Film ini bertutur tentang sebuah representasi kondisi pendidikan di Indonesia yang masih begitu mahal bagi orang-orang dengan ekonomi lemah. Seorang gadis desa Kesiman Tengah, Pacet – Mojokerto, berdiri tegak menghadapi semua kenyataan getir tersebut. Walau terpaksa harus putus sekolah selepas SMP, dia masih menyimpan harapan untuk bersekolah lagi. Selain itu, cerita tentang  sebuah potret tentang indahnya perbedaan yang saling melengkapi, sementara di luar sana mereka sibuk memperuncing perbedaan dengan kebencian dan fanatisme tergambar dalam film ini.

This film talks about the representation of education condition in Indonesia which is very expensive for poor people. When economic pressed and nightmare of drag education haunted, the girl from Kesiman Tengah, Pcet- Mojokerto stand up face up to those bitter reality. Even though she forced end of her education after Junior High School, she still have a dream for school again. Besides that, this film capturing the diversity that completing each other and the other hand they still debating the diversity with hatred and fanatics.

4. Jlegur

Dir : Rendra Bagus Pratama / 10′/ SMKN 3 Batu

Bermodalkan pengetahuan sejarah, Pak Isuardi mencoba mengembangkan alat musik tradisional berupa Jidor, yang diberi nama Jlegur. Seniman pemilik padepokan Gunung Ukir ini meyakini bahwa musik Jlegur adalah sebagai musik perang peninggalan nenek moyang Kota Batu. Dengan mengenalkan kepada anak dan muridnya, Jlegur mulai diolah sebagai kolaborasi kesenian lain baik tradisional hingga kesenian modern. Meskipun tidak mendapat dukungan dari pemerintah, Pak Iswandi tetap berupaya untuk mengenalkan musik Jlegur kepada masyarakat luas sebagai budaya asli Kota Batu.

By using historical knowledge, Mr. Isuardi trying to improve traditional music instrument called Jlegur. The owner of art place “Gunung Ukir” believes this instrument is an ancestral heritage of war from Kota Batu. With introduce to his student and his children, Jlegur start to join with the other collaboration of art like traditional art and modern art. Even though he not got much support from Government, Mr. Isuardi still trying to introduce music Jlegur to citizens as the real art of Kota Batu.

Kategori Pendek :

1. Biarkan Mereka Memilih / Chosen Language

Dir : Nima Grafina Sirait / 23’35″ / DAAI TV

Agustina Prasetyawati merupakan satu contoh tuna rungu yang mengalami pemaksaan penggunaan bahasa oral di sekolahnya. Ia dan teman-temannya secara sembunyi-sembunyi mempelajari bahasa isyarat. Beruntunglah, keluarga Agustina membebaskannya untuk menggunakan bahasa apapun. Agustina pun menemukan caranya sendiri untuk berkomunikasi dengan siapa saja.

Agustina Prasetyawati is one example of deaf has been forced to use oral language at her school. She and friends secretly study sign language. Lucky for her, Agustina family give her a freedom for use anything kind of language. Then Agustina find her way how to communicate with other people.

2. Digital Native Padang Panjang: Reflection Akumedium / Digital Native Padang Panjang: Reflection iof medium

Dir : David Darmadi / 7′ / Komunitas Sarueh

Warnet atau warung internet saat sekarang sudah menjadi kebutuhan bagi banyak orang. Di salah satu warnet yang ada di Padang Panjang, seorang pria berumur 20-an  tahun membawa kamera video untuk merekam aktivitas anak-anak yang masih berumur belasan tahun yang sedang bermain game online. Lalu terjadilah interaksi diantara mereka.

Now everybody needs internet. In one of café internet at Padang Panjang, a man in his twentieth with his video camera recorded kids playing an online game. And then they have a connection.

3. Maaf, Bioskop Tutup / Sorry, The Cinema Is Closed

Dir : Ardi Wilda Irawan / 17’55″ / Ode

Terhitung sejak 1 Agustus 2010 Bioskop Permata menyatakan diri tutup. Tutupnya bioskop ini menambah deret panjang matinya bioskop kelas dua di Yogyakarta. Film ini mencoba menceritakan akhir dari sejarah panjang bioskop di Jogja yang sempat menyentuh angka dua puluh buah gedung bioskop.

Since the beginning of August 2010, Permata Theatre has been closed down.  This film tries to explain about the end of a long Yogyakarta cinema history which in one point had once reach twenty theaters.

4. Selopanggung

Dir : Devy Kurnia Alamsyah / 30′ / Apik Production

Selama berpuluh-puluh tahun sebuah nisan tak bernama berdiri tegak di Selopanggung -sebuah daerah kecil di Jawa Timur. Sebuah penyelidikan dan penelitian dari seorang berkebangsaan asing akhirnya mengungkap sebuah rahasia sejarah. Segenap upaya pembuktian dilakukan. Sebongkah rangka manusia yang mengundang tanya akhirnya muncul ke permukaan, rangka manusia yang diyakini milik Tan Malaka.

For a long time there a no name gravestone at Selopanggung, a small village in East Java. An investigation and research finally can reveal the truth of mysterious human skeleton which is belonging to Tan Malaka.

5. Music For A Film

Dir : Darwin Nugraha / 20′ / ECCO Film Indonesia

Empat orang pemuda yang tergabung dalam sebuah band diminta oleh seorang pembuat film dokumenter, Leonard Retel Helmrich, untuk membuat musik untuk salah satu adegan dalam film terbarunya.  Film ini mengisahkan proses pembuatan musik tersebut.

This film tell about process made a music for one of scene in a new documenter film by four young man which is join a band and has been requested by  Leonard Retel Helmrich,  a documentary filmmaker.

6. DIE JONGEN KAN ZINGEN. Ode Untu Subronto

Dir : Ratih Prebatasari / 26′ / Katjabenggala

Bagaimana musik menjadi kekuatan dalam perjalanan hidup komponis Subronto Kusumo Atmojo, seorang Sukarnois yang dipresentasikannya melalui lagu. Nasakom Bersatu, salah satu lagu yang diciptakan untuk mendukung gagasan persatuan tiga arus kekuatan politik rakyat Indonesia, Nasionalisme, Agama, dan Komunis yang ditawarkan Sukarno sejak tahun 1926. Ketidakstabilan situasi yang terjadi saat berkuasanya Orde Baru, Subronto menjadi korban pengasingan dan lagu ciptaannya dilarang untuk dinyanyikan.

How music can be a power of life a composer, Subronto Kusumo Atmojo, a Sukarnois, and he presented it with song. Nasakom Bersatu, is one of song he made for support the idea unity of three flow Indonesian power politics, Nationalism ,Religion and  Communist which is covered by Sukarno since 1926. A stability situation when NEW ORDER, Subronto has been victim exile and song he made forbidden to sing.

Kategori Panjang :

1. Bunda Reinha / Our Mother The Queen

Dir : Deyna / 61′ / Jiwa Creation

Kehadiran patung Bunda Maria, disebut Tuan Ma sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Larantuka selama lebih dari 500 tahun. Disana, bersama ribuan umat dari berbagai daerah di Indonesia berlangsung prosesi Paskah bernuansa Portugis tentang penyertaan dan divosi kepada Maria. Pelaksanaan prosesi ini dihitung sebagai yang tertua di dunia, dan masih berlanjut hingga kini.

Statue of Mother Marie, later called Tuan Ma, has been an important part of Larantuka people’s life for more 500 years. There, along with thousands of people from all over Indonesia they carry on an Easter procession in a bold nuanced Portuguese way, contain their inclusion and devotion to Mother Mary. This procession counts as the longest run one in the world, and still goes on.

2. On Broadway #1

Dir : Aryo Danusiri / 42′ / Ragam Network dengan dukungan Sensory Etnography Lab Harvard University

Film ini tentang sebuah masjid di tengah Manhattan, Kota New York, AS, bertujuan untuk memberikan gambaran kompleks mengenai muslim Amerika diluar reproduksi imajinasi kekerasan 9/11 dari media massa. Satu gambar berdiri untuk beragam pandangan. Sebuah karya dokumenter yang kembali ke bahasa visual “sinema awal” (early cinema), yaitu film sebagai panggung visual bagi ruang-waktu-gerak dan bukan kata-kata.

This is a film on a mosque in center of Manhattan, New York City, USA, as an attempt to give a complex depiction about American Muslim outside the violence image reproduction by Mass Media on 9/11. One shot stands for varies point of view. A documentary work using the “early cinema” language as its treatment and regarding film as a visual stage for space-time-movement other than word.

3. Hope

Dir : Andibachtiar Yusuf / 71′ / Bogalakon Pictures

Indonesia kini telah berusia 65 tahun, usia yang dewasa sebagai sebuah negara. Kedewasaan yang timpang dengan adanya praktik korupsi, kebodohan, dan sebagainya. Film ini ingin bicara bagaimana kehadiran beberapa individu hebat membuat Indonesia masih layak memiliki harapan.

Indonesia has celebrated its 65th year’s anniversary. Should be a mature number for a country! The facts that corruption, poverty and health problems still become the main issues put the maturity value in a bold question mark. This film shows some great Indonesian people, to whom this country rely its hope on.

4. Radio Rimba Raya / Radio of Revolution

Dir : Ikmal Gopi / 80′ / Kancamara

Radio Rimba Raya yang berada dalam hutan belantara Aceh (Gayo) memiliki peranan penting pada masa revolusi fisik 1948-1949. Perang urat syaraf terus dilancarkan melawan Radio Belanda di Medan, Radio Batavia dan juga Radio Hilversum di Belanda. Untuk menepis propaganda Belanda yang mengatakan “Indonesia Sudah Tidak Ada Lagi”, Radio Rimba Raya menyiarkan berita sampai ke luar negeri tentang kondisi Republik saat itu, mulai Serangan Umum 1 Maret 1949 hingga tercapainya kesepakatan Konferensi Meja Bundar (KMB).

Radio Rimba Raya, true to its name, located in a deep jungle in Aceh (Gayo) played important role in the time of physical revolution in 1948-1949. It conducts psywar against Dutch Radio in Medan, Batavia Radio also Hilversum Radio in Holland. In order to ward off the colonial propaganda Radio Rimba Raya broadcasted the current political condition of Republic Indonesia to the world. From Serangan Umum 1 Maret 1949 to Round Table Conference.

5. Roda Di Bawah Kaki Singa / Wheels Under the Lion’s Foot

Dir :  Abu Juniarenta, Eko Harsoselanto, Ario Halendra / 67’ / Kampung Halaman & IPMKR-Y

Setelah peluncuran Free Trade Zone (FTZ) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada  Januari 2009 lalu, generasi muda Batam saat ini berkutat dengan tingginya biaya hidup dengan masa depan sebagai tenaga kerja murah bagi Singapura. Belum lagi soal invasi ekonomi lainnya. Batam masa kini adalah sebuah titik cahaya yang diburu orang-orang dengan satu harapan; perbaikan ekonomi.

Ever since the President of Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono launched Free Trade Zone (FTZ) on January 2009, young people in Batam deals with high living cost and a future as cheap labor for the neighboring country, Singapore. Needless to mention, the various formats of economic invasion never seemed to cease. Batam today is a shimmering light for job seeker and economy advancement.

6. Prison and Paradise

Dir : Daniel Rudi Haryanto  / 93’ / Daniel Rudi Haryanto Film

Bom Bali 12 Oktober 2002 menyisakan perdebatan panjang tentang Islam: Islam pergerakan, Jihad Islam, Bom bunuh diri dan terorisme. Di antara para pelakunya adalah Imam Samudra, Ali Gufron al Muklas, Amrozy dan Ali Imron.
Imawan Sarjono, (menantu dari Haji Maksum) adalah satu di antara korban Bom Bali Satu. Ia meninggalkan seorang istri (Eka Laksmi) dan dua anak yang saat itu masih bayi (Alief dan Aldi). Keluarga ini menempuh pergulatan panjang untuk bangkit dari duka. Noor Huda Ismail, mantan jurnalis Washington Pos yang meliput peristiwa Bom Bali 1 adalah kawan dari anggota jaringan pelaku Bom Bali 1. Sepulang dari kuliah di St. Andrews university, Huda melibatkan diri dalam proses rekonsiliasi antara keluarga pelaku dan keluarga korban Bom Bali Satu.Serangan bom bunuh diri yang mengatas namakan Jihad Islam itu juga merenggut korban dari kalangan Muslim.  Jika di dalam Al Quran surah 107 Al Maun disebutkan, bahwa orang-orang yang mendustakan agama adalah mereka yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan kepada orang miskin, lantas bagaimana ketika bom bunuh diri itu melahirkan anak-anak yatim korban dari ideologi?

October 12, 2002 Bali bombing leaving a great debate about Islam: Movements, Jihad suicide bombing and of course the key word, terrorism. Among the actors are Imam Samudra, Ali Gufron al Muklas, Amrozy and Ali Imron. Imawan Sarjono was one of First Bali bombing victim left his wife (Eka Laksmi) along with two sons (Alief and Aldi). This leftover family has to struggle in relieving the sorrow. Noor Huda Ismail, Washington Post ex-journalist who reports the First Bali bombing, is a friend of one of First Bali bombing actors. After finishing his study in St. Andrews University, Huda involved himself in a reconciliation process between the two polars families: actor and victim. Suicide Bombing who assume their act as Islamic Jihad, also put the Moslem in the list of victims. Koran (107:Al Maun) mentioned that people who disbelieve their religion are the people who condemned the orphans and not giving help to the poor; then would the actors see suicide bomb as a cause of many orphans of their believe?

7. Ampun DJ

Dir : Agus Darmawan / 80′ / Absolute Entertainment

Empat perempuan berstatus mahasiswi, satu profesi sebagai model dancer, tinggal dalam satu kos-kosan. Ampun DJ.

This film tells a tale of four college girls, shared a dorm, tied with one profession: a model dancer.

Comments are closed.